Posts

waktu yang tak terbatas

kazumi keiko; Garis paras yang merentas sebercak titik sumringah  Bidikan binar yang anggun nan megah Siapa kau anak panah yang siap terarah?   Aku merenung bak sebuah lukisan patung Tersenyum kagum mendengar cuitan burung,  Langitnya tidak lagi begitu mendung ,  Jiwa nya tak lagi berada didalam kurung,   Titik garis bagian bibir yang manis Nan tipis,  Kau mengajakku bermain dengan barisan syair yang tak begitu puitis Kau menarikku kedalam sebuah alunan yang berjajar dengan tuan tuan,  yang memiliki sebuah kehormatan atas nama kekuasaan juga segala keadaan,   baik ,  kurungkan niatku untuk segera melawan barisan yang tak bisa ku jelaskan, sebab aku adalah mahluk tuhan yang tak mungkin menang hanya dengan bermodalkan rupawan , ataupun sebuah ketenangan, tapi sedikit saja kau harus tau tentang sebuah kebenaran  ada beberapa harapan, yang perlahan sedang kuwujudkan, memalui sebuah tulisan, atau sebuah rangkaian yang sulit kau artikan.. ...

terserah dalam resah

Apa puisi puisi ini akan mati, Ditelan beberapa prinsip yang dikategorikan patah hati? Mencintaimu dengan jarak membuatku terkadang meludahi diri sendiri, Memaki pada apa yang tak pernah terjadi..   Sandi sandi sering salah, Otak otak yang jago dalam menterjemah Tanpa mengikuti aturan yang   benar maupun salah,     Ini kutulis bukan dari siapa untuk siapa, Tapi padaku dariku ,   Lelah berbicara pada sebuah suasana, Beberapa alasan yang menjadi sebuah duga, Atau Hidupnya angka dilema, Dan mungkin lahirnya rasa tak percaya.   Cinta memang apalah bila ku kritik sarankan, Aku berperan pada sebuah putaran putaran Pusat Yang nyatanya sedang berjalan dalam setiap kehidupan, Siapa nama yang sedang ia bicarakan?   Bukan kah terlalu menjadi pusat perhatian, Yang ia jadikan sebuah kehangatan, Juga perdebatan,   dalam setiap tulisan?     Pusat pusat semesta berpacu pada nya , Kata katanya san...

Mirror

Aku bingung,- Apakah ada bentuk keluhan terbaik ? Tanpa harus mencaci ? Dear saturday,- Bukan kah kau ikut mendukung kelahiranku? Ada apa dengan mu? Senang sekali membuat duniaku terlihat abu abu? Dan tidak lagi membiru. Bukan kah kau rindu pada senyuman yang tidak tabu? Pada garis longgar tepat di dalam matanya yang bersinar? Apa dia kurang baik? Atau memang dirinya bukan orang baik? Kenapa dunianya masih saja berputar disana? Apa yang kau rasa nyaman? Saat semua senyuman , Kau iringi dengan kesedihan? Kau terlalu keliru , Hingga kau merasa menjadi babu untuk dirimu, Aku masih berbicara seperti biasanya, Masih sanggup tertawa melewati segalanya, Dan kau harusnya tidak beranggapan Dengan apa yang mereka pikirkan Apa lagi logika mu yang mulai tak beraturan . Kamu ingat? Ada aku disini Aku adalah teman Yang satu satunya takan tertawa ketika kamu menangis kesakitan . Aku tidak jago dalam menasehati , Apalagi memberikan mu sebuah pelangi, Tapi disinil...

Puisi034

Embun sudah mengering, Sama dengan air mataku, Rasa nya sangat ada ada saja Ketika aku pergi membuka jendela Merasa tida guna, Melihat semua nafas sedang lega leganya, Mulai merancu, Terpicu bahkan. Menjadi merasa tak berarti Sangat tiada arti. Semua tidak baik baik saja untuk kemarin Juga hari ini Tentang langit mendung, Cahaya bulan yang meredup Bintamg yang semakin lama semakin sedikit Dan bumi yang semakin sempit Aku adalah gumpalan darah Yang terkadang kehilangan arah.

Who is she?

Boleh aku menyalahkan sidia? Yang keberadaannya tepat di depan kaca Yang mulutnya masih saja terbungkam dan tak mau bicara Yang masih saja mengaku pada dunia bahwa dia baik baik saja. "Dia BODOH!!!" selalu saja menangis tepat dihadapanku dan menceritakan keluh kesahnya, Tapi aku tidak sanggup mengusap air matanya Masih saja tak bisa menghentikan isaknya Dan parah nya aku malah ikut menjerit melihat air matanya "Dia BODOH!!!" Masih saja berkata"aku baik baik saja" Dan berusaha menguat kan diri setelah tangisnya mereda, Dan mencoba melawannya dengan sekuat tenaga "Dia itu siapa?" "Dia adalah aku" " dan aku adalah dia yang sedang bercerita tepat didepan kaca"

Ikhtisar19

Page365 of 365  aku tidak bisa menyelesaikan tulisan panas yang menyalur dari sebuah pikiran, api api di tangan membakar kertas yang bersusun dengan tidak beraturan, Berhenti dititik yang jelas tidak semakin terang . Aku dan segala cerita resmi diatas sebuah koran, Aku dan juga kisah klasik yang menyedihkan, Timbunan story yang membuat otakku takaruan, membekas keras dalam sebuah pikiran Dimana air mengalir bukan tepat pada sumbernya, mata membengkak, pipi memerah, hidung menebal, dan bibir memucat! Satu persatu menghancurkan beberapa pesan manis yang kutulis jauh sebelum aku mengemis untuk menghentikan kejadian yang hampir saja membakarku hiduphidup; sadis? Tidak ini hanya aku yang dramatis, Tapi hati ku jelas menangis, Hari ku di hancurkan oleh segerombol orang asing; kamarku tak senyaman ketika usiaku 17 tahun ; Perdebatan itu, emosi itu, airmata itu, dan jeritan itu? Aku merekam semua nya dan sangat tersimpan baik didalam memory dan bahkan aku tak in...

September with you

Ada kamu di septemberku,- hubungan digital , rindu yang masih belum juga menyatu, pikiran yang sering bertolak belakang, rasa yang kadang sering bersinggungan, sedikit saja ajarkan aku caranya untuk tidak takut melawan hal besar yang menyerang isi kepala tentang kita, sebab kutau semua pasti merasakan tidak baik baik saja . Sebab akan selalu ada api bersama airnya, akan ada badai bersama hujannya, pun kita. Kita hanya perlu meminimalisir beberapa bagiannya saja, karena benar adanya , ketika pintu ini di buka aku harus siap kau untuk masuk dan melakukan apapun didalamnya. Mungkin kita adalah salah seorang yang sedang didewasakan kuharap dengan cara yang benar tentunya, karena lagi lagi aku mau kamu tetap bersamaku dengan syarat tanpa paksaan