terserah dalam resah

Apa puisi puisi ini akan mati,

Ditelan beberapa prinsip yang dikategorikan patah hati?

Mencintaimu dengan jarak membuatku terkadang meludahi diri sendiri,

Memaki pada apa yang tak pernah terjadi..

 

Sandi sandi sering salah,

Otak otak yang jago dalam menterjemah

Tanpa mengikuti aturan yang  benar maupun salah,

 

 

Ini kutulis bukan dari siapa untuk siapa,

Tapi padaku dariku ,

 

Lelah berbicara pada sebuah suasana,

Beberapa alasan yang menjadi sebuah duga,

Atau Hidupnya angka dilema,

Dan mungkin lahirnya rasa tak percaya.

 

Cinta memang apalah bila ku kritik sarankan,

Aku berperan pada sebuah putaran putaran

Pusat Yang nyatanya sedang berjalan dalam setiap kehidupan,

Siapa nama yang sedang ia bicarakan?

 

Bukan kah terlalu menjadi pusat perhatian,

Yang ia jadikan sebuah kehangatan,

Juga perdebatan,  dalam setiap tulisan?

 

 

Pusat pusat semesta berpacu pada nya ,

Kata katanya sangat sulit dicerna,

Tapi dia sangat manis saat bercerita,

Apa lagi ketika mengungkapkan sebuah kekesalan  yang jujur apa adanya.

 

 

Wajahnya makin menawan ketika tekuk diwajahnya mulai bungkam,

Garis senyum yang hilang tak membuat auranya begitu kusam.

Haha, mungkin aku yang sudah tergila gila pada sang arjuna

Yang namanya masih ku genggam pada sebuah do’a.

Comments

Popular posts from this blog

Hilang

Lentera

September with you