letter for my dream lovely


aku minta maaf atas apa yang terjadi pada lembaran lembaran yang tak sengaja hilang;

tangan kaku yang tak bisa menulis seluruh tentang namamu;
sempat aku bertanya pada tuhan yang menciptakan siang dan malam .
mengapa diksi diksi ini ikut memudar, sejalannya badai patah hati kembali menjadi normal?

apa aku butuh patah hati untuk , menulis diksi kembali.
atau hanya butuh kamu sebagai materi untuk mengisi barisan puisi ini?

dengan namamupun, aku benar benar mati disetiap titik yang ingin ku mulai kembali.

entah kau yang memang bukan materi, atau si aku yang tak benar benar memahami. ?

kemarin keadilan berpihak pada sebuah luka lebam yang membiru,
semua diksi diksi ku hampir memenuhi cerita tentangmu..

berhenti di halaman 157 aku benar benar tak beraturan menulis puisiku.
jadwalku berantakan , kondisiku hancur tak karuan.
rinduku tanpa tujuan.

aku berhenti menangisi orang orang menyakitiku, entah karena luka lebam itu sudah memulih atau memang semakin parah sampai tak bisa menikmati rasa sedih.


sejauh aku memandang alam . semakin aku paham
kau hanya pecundang yang sanggup mempermainkan.!
jelas aku hanya bisa memendam
lalu tersenyum disetiap hembusan angin alam.

ini baik untuku, tapi tidak untuk bukuku;
halamanku tertinggal jauh, bahkan sangat jauh saat aku tidak memiliki rasa apapun.




Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Hilang

Lentera

September with you