Ikhtisar19
Page365 of 365
aku tidak bisa menyelesaikan tulisan panas yang menyalur dari sebuah pikiran,
api api di tangan membakar kertas yang bersusun dengan tidak beraturan,
Berhenti dititik yang jelas tidak semakin terang .
Aku dan segala cerita resmi diatas sebuah koran,
Aku dan juga kisah klasik yang menyedihkan,
Timbunan story yang membuat otakku takaruan,
membekas keras dalam sebuah pikiran
Dimana air mengalir bukan tepat pada sumbernya, mata membengkak, pipi memerah, hidung menebal, dan bibir memucat!
Satu persatu menghancurkan beberapa pesan manis yang kutulis jauh sebelum aku mengemis untuk menghentikan kejadian yang hampir saja membakarku hiduphidup;
sadis?
Tidak ini hanya aku yang dramatis,
Tapi hati ku jelas menangis,
Hari ku di hancurkan oleh segerombol orang asing; kamarku tak senyaman ketika usiaku 17 tahun ;
Perdebatan itu, emosi itu, airmata itu, dan jeritan itu? Aku merekam semua nya dan sangat tersimpan baik didalam memory dan bahkan aku tak ingin berusaha melupakannya!
Janji janji mulai terdengar di telingaku, barisan orang yang pura pura menghibur ? Aku percaya mereka sedang membohongiku!
Dilema otak selalu bicara "berhenti berhenti," hati lelah memaklumi dan ikut mengiringi, sendu masih saja hadir tiap hari
Ini membuatku sakit, jalanku tak benar, air mataku mengalir tak tau tempat, sebab luka ingatan yang tetkadang ta sengaja lewat;
Sejauh waktu ikut berjalan luka ini masih belum pulih sepenuhnya, dan sesekali bertanya kenapa aku yang merasakan?
Namun hanya angin yang menamparku secara perlahan, angin yang mengusap airmata tanpa sebuah penghormatan.
Sukaaaaaa❤️
ReplyDeleteMakasih 💞
Deletekeren
ReplyDeletekeren puisinya
ReplyDelete